Peneliti Jepang Kembangkan Konsep Perkotaan Baru untuk Tekan Emisi Karbon Dioksida
Tempat perkotaan sudah jadi salah satunya konsentrasi usaha mitigasi cuaca global. Mereka berperan atas 60-70 % emisi karbon dioksida berkaitan energi.
Di tengah-tengah keadaan ini, beberapa periset memandang penting untuk mengenali pilihan irit ongkos untuk kurangi emisi karbon dioksida dan tingkatkan ketahanan tempat perkotaan. Ide ini diinginkan segera dapat jamin kesejahteraan beberapa penghuni tempat perkotaan.
MPO Slot Online Bertumpu dari hal tersebut, beberapa periset juga meningkatkan ide "SolarEV City". Dalam ide ini panel surya fotovoltaik di atap-atap permukiman dan kendaraan listrik (EV) yang terpadu menyuplai listrik bebas karbon dioksida yang dapat dijangkau dan bisa disalurkan ke warga.
"Kami lakukan riset teknoekonomi untuk menilai ide itu dalam soal pengurangan emisi karbon dioksida, penghematan ongkos, kecukupan energi, swasembada, dan konsumsi sendiri untuk sembilan daerah perkotaan Jepang," papar salah seorang periset di National Institute for Environmental Studies, Tsukuba, Ibaraki, Jepang, Dr. Takuro Kobashi dalam keluarkan jurnalis lewat Eurekalert.
Beberapa kota itu mencakup Kyoto, Hiroshima, Korimaya, Okayama, Sapporo, Sendai, Niigata, Kawasaki, dan Tokyo.
"Riset kami memperlihatkan jika implementasi ide ini segera dapat penuhi 53-95 % keperluan listrik di sembilan daerah perkotaan khusus Jepang itu di tahun 2030 dengan pemakaian 70 % atap-atap permukiman di perkotaan," kata Kobashi selanjutnya.
Emisi karbon dioksida dari pemakaian kendaraan dan pembangkit listrik di daerah ini bisa dikurangi sampai 54-95 % dengan kekuatan penghematan ongkos sejumlah 26-41 %.
Efektifitas ongkos yang tinggi dan insolasi yang konstan secara angin-anginan di lintang rendah bisa jadi adalah panduan jika ide itu makin lebih efisien untuk mendekarbonisasi lingkungan perkotaan di negara berkembang di lintang rendah.
Antara faktor-faktor, interferensi pemerintahan disebutkan akan berperanan penting dalam merealisasikan mekanisme itu, khususnya dalam ketentuan perundang-undangan yang tingkatkan penetratif mekanisme panel surya fotovoltaik dan kendaraan listrik terpadu dan memungkinkannya pembangunan mekanisme tenaga terdesentralisasi.
"Sebab dari proses bawah ke atas penting, pembikin peraturan, komune, industri, dan periset harus bekerja bersama untuk membuat mekanisme semacam itu untuk menangani kendala sosial dan ketentuan," tutur Kobashi.
